Sayapku Telah Patah

          Terkecuali kau yang bisa. Disini aku merintih, mencoba menjadi mampu untuk terbang bebas diangkasa, melukis pelangi ditengah senduhan hujan yang rintik agar kegundahan hati yang berkerut menemukan senyumannya. Namun, langit menolakku.
         
          Kutunggu hari demi senja, namun senja tak mampu menampak lantaran benci menampakkannya padaku. Sayapku telah patah karenanya dan kutak mampu memperlihatkan secerca bahagia.

          Kutunggu petang mencari cela kebahagiaan. Setelah penantian tiba, tak dapat kumelihat gemerlap bintang disana. Hanya bisikannya yang terdengar lirih padaku ' aku sudah nampak' . Kau memang berkata nampak, tapi tak begitu nampak di mataku. Seakan kabut telah menjadi Raja.

          Bagaimana hatiku akan berkawan jika semua hal tak menjadikanku baik. Mengapa Tuhan mengirimku menjajaki bumi sedangkan bumi saja menolak kehadiranku. Kemana arah untuk kusembuhkan sayapku dari ketidakadilan mereka.

          Disini, kuterdiam disudut dunia, mengobati sayapku yang patah dalam kesendirian. Mungkin, kuhanya menunggu keajaiban untukku menjadi mampu dan menjadi hal yang layak untuk dikawani.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memproduktifkan Manusia Cobalah Mencontoh Ke Alam Semesta

Untukmu Yang Teduh Dengan Menutup

Goresan di Hari Ibu